1. Pembiasaan Klasikal Pavlov

Pembiasaan klasikal (Classical Conditioning) merupakan tipe belajar yang menekankan stimulus netral memerlukan kapasitas untuk merangsang respon yang secara orisinil terangsang oleh stimulus yang lain. Proses ini dinamakan juga respondent conditioning yang pertamakali diperkenalkan oleh Ivan Pavlov pada tahun 1903.

Ivan Petrovich Pavlov adalah ahli fisiologi ternama Rusia yang mendapatkan penghargaan Nobel (dalam penelitian tentang pencernaan). Dia seorang ilmuan yang penuh dedikasi, yang terobsesi dengan penelitiannya. Dia telah meneliti tentang proses pencernaan anjing, ketika dia mengetahui bahwa anjing dapat dilatih untuk mengeluarkan air liur untuk merespon bunyi bell. Sebagai stimulus netral, bunyi bell memang tidak menghasilkan respon air liur anjing. Untuk mengubah agar bunyi bell itu dapat menghasilkan respon, maka Pavlov menyertakan (memasang) bell dengan bubuk daging (stimulus yang melahirkan respon keluarnya air liur). Melalui proses ini, bell mempunyai kemampuan untuk menghasilkan respon keluarnya air liur. Proses ini juga menunjukan, bahwa refleks-refleks itu dapat dipelajari.
2. Pengkondisian Operan: Skinner
Burrhusm Frederic Skinner adalah salah seorang ahli psikologi di Amerika yang banyak menghabiskan waktunya bekerja di Universitas Harvard. Dia masuk Universitas Harvard pada tahun 1928 dan memperoleh gelar Ph.D.
a. Tipe Tingkah Laku
Skinner membagi tingkah laku ke dalam dua tipe, yaitu:
a. Tingkah laku responden (respondent behavior) adalah respon atau tingkah laku yang dibangkitkan atau dirangsang oleh stimulus tertentu. Tingkah laku responden ini wujudnya adalah refleks. Contohnya: mata berkedip karena kena debu, menarik tangan pada saat terkena sengatan setrum listrik. Berkedip debu dan sengatan setrum adalah stimulus.
b. Tingkah laku operan (operant behavior) adalah respon atau tingkah laku yang bersifat spontan (sukarela) tanpa stimulus yang mendorongnya secara langsung. Tingkah laku ini ditentukan atau dimodifikasi oleh reinforcement yang mengikutinya.
b. Pengkondisian Tingkah Laku Operan (Operant Conditioning)
Teori yang dikembangkan Skinner terkenal dengan “Operant Conditioning”, yaitu bentuk belajar yang menekankan respon-respon atau tingkah laku yang sukarela dikontrol oleh konsekuen-konsekuennya. Proses “operant conditioning” dijelaskan oleh Skinner melalui eksperimennya terhadap tikus, yang terkenal dengan “Skinner Box”.
Berdasarkan eksperimennya, Skinner berkesimpulan bahwa “operant conditioning” lebih banyak membentuk tingkah laku manusia dari pada “classical conditioning”, lebih banyak membentuk tingkah laku manusia dari pada “classical conditioning”, karena kebanyakan respon-respon manusia lebih bersifat disengaja dari pada reflektif. Skinner telah melalukan penelitian sederhana, namun mempunyai pengaruh yang sangat besar, terutama terhadap pemikiran dalam psikologi.

c. Kekuatan Reinforcement
Menurut Skinner “reinforcement” dapat terjadi dalam dua cara:
-Reinforcement positif memotivasi banyak tingkah laku sehari-hari. Seperti anda belajar keras karena mendapat nilai yang bagus, atau bekerja ekstra keras karena ingin memenangkan promosi. Dalam kedua contoh ini, respon terjadi karena respon-respon mengarahkan pada hasil-hasil yang positif di masa lalu.
-Reinsforcement negative terjadi ketika respon diperkuat (sering dilakukan), karena diikuti oleh stimulus yang dapat menyenangkan. Reinsforcement ini memainkan peranan dalam perkembangan kecenderungan-kecenderungan untuk menolak (menghindar). Pada umumnya orang cenderung menghindar dari situasi yang kaku, atau masalah pribadi yang sulit.
d. Ekstingsi dan Hukuman (Extinction & Punishment)
Terjadinya ekstingsi dimulai ketika respon-respon yang diperkuat mengakhiri dampak yang positif. Seperi anak yang suka melucu akan menghentikan melucunya, apabila dia tidak lagi mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari teman-temannya.
Beberapa respon mungkin dapat diperlemah dengan hukuman. Menurut Skinner hukuman ini terjadi ketika respon diperlemah (menurun frekuensinya dan bahkan menghilang), karena diikuti oleh kehadiran stimulus yang tidak menyenangkan.
3. Teori Belajar: Bandura
Albert Bandura adalah salah seorang behavioris yang menambahkan aspek kognitif terhadap behaviorisme sejak tahun 1960. Pengembangan teorinya merujuk kepada pandangan Skinner. Meskipun begitu Bandura memiliki pendapat (asumsi) tersendiri dalam kaitannya dengan hakikat manusia dan kepribadian. Asumsinya itu adalah sebagai berikut.

a. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sadar, berpikir, merasa dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Dengan demikian manusia bukan seperti poin atau bidak yang mudah sekali dipengaruhi atau dimanipulasi oleh lingkungan. Hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat saling mempengaruhi satu sama lainnya.
b. Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi antara satu sama lainnya. Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut.
4. Komentar
Teori behavioristik (pendekatan tingkah laku) dibangun atas dasar penelitian empiric, bukan hasil intuisi klinis. Karena bersifat empiric, pendekatan tingkah laku terbuka terhadap penemuan—penemuan atau gagasan-gagasan baru.
Para behavioris menyakini bahwa tingkah laku manusia itu tidak selalu konsisten, karena manusia berperilaku dengan cara-cara yang mengarah kepada reinforcement dalam situasi yang dihadapi. Dalam kata lain, faktor-faktor situasional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan tingkah laku.
Berikut merupakan kritik terhadap teori behavioristik:
a. Prinsip-prinsip dalam teori tingkah laku ditemukan melalui penelitian terhadap binatang. Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut (tingkah laku binatang) tidak bias digeneralisasikan kepada tingkah laku manusia.
b. Para behavioris mengabaikan proses kognitif, padahal factor ini sangat penting dalam tingkah perilaku manusia.
c. Para behavioris memandang kepribadian secara pragmentaris (terpecah-pecah, tidak utuh). Kepribadian dirumuskan secara sederhana, hanya sebagai hasil asosiasi stimulus-respon.
Credit @ trigonalworld.com