1. Pembiasaan Klasikal Pavlov

Pembiasaan klasikal (Classical Conditioning) merupakan tipe belajar yang menekankan stimulus netral memerlukan kapasitas untuk merangsang respon yang secara orisinil terangsang oleh stimulus yang lain. Proses ini dinamakan juga respondent conditioning yang pertamakali diperkenalkan oleh Ivan Pavlov pada tahun 1903.

Ivan Petrovich Pavlov adalah ahli fisiologi ternama Rusia yang mendapatkan penghargaan Nobel (dalam penelitian tentang pencernaan). Dia seorang ilmuan yang penuh dedikasi, yang terobsesi dengan penelitiannya. Dia telah meneliti tentang proses pencernaan anjing, ketika dia mengetahui bahwa anjing dapat dilatih untuk mengeluarkan air liur untuk merespon bunyi bell. Sebagai stimulus netral, bunyi bell memang tidak menghasilkan respon air liur anjing. Untuk mengubah agar bunyi bell itu dapat menghasilkan respon, maka Pavlov menyertakan (memasang) bell dengan bubuk daging (stimulus yang melahirkan respon keluarnya air liur). Melalui proses ini, bell mempunyai kemampuan untuk menghasilkan respon keluarnya air liur. Proses ini juga menunjukan, bahwa refleks-refleks itu dapat dipelajari.
2. Pengkondisian Operan: Skinner
Burrhusm Frederic Skinner adalah salah seorang ahli psikologi di Amerika yang banyak menghabiskan waktunya bekerja di Universitas Harvard. Dia masuk Universitas Harvard pada tahun 1928 dan memperoleh gelar Ph.D.
a. Tipe Tingkah Laku
Skinner membagi tingkah laku ke dalam dua tipe, yaitu:
a. Tingkah laku responden (respondent behavior) adalah respon atau tingkah laku yang dibangkitkan atau dirangsang oleh stimulus tertentu. Tingkah laku responden ini wujudnya adalah refleks. Contohnya: mata berkedip karena kena debu, menarik tangan pada saat terkena sengatan setrum listrik. Berkedip debu dan sengatan setrum adalah stimulus.
b. Tingkah laku operan (operant behavior) adalah respon atau tingkah laku yang bersifat spontan (sukarela) tanpa stimulus yang mendorongnya secara langsung. Tingkah laku ini ditentukan atau dimodifikasi oleh reinforcement yang mengikutinya.
b. Pengkondisian Tingkah Laku Operan (Operant Conditioning)
Teori yang dikembangkan Skinner terkenal dengan “Operant Conditioning”, yaitu bentuk belajar yang menekankan respon-respon atau tingkah laku yang sukarela dikontrol oleh konsekuen-konsekuennya. Proses “operant conditioning” dijelaskan oleh Skinner melalui eksperimennya terhadap tikus, yang terkenal dengan “Skinner Box”.
Berdasarkan eksperimennya, Skinner berkesimpulan bahwa “operant conditioning” lebih banyak membentuk tingkah laku manusia dari pada “classical conditioning”, lebih banyak membentuk tingkah laku manusia dari pada “classical conditioning”, karena kebanyakan respon-respon manusia lebih bersifat disengaja dari pada reflektif. Skinner telah melalukan penelitian sederhana, namun mempunyai pengaruh yang sangat besar, terutama terhadap pemikiran dalam psikologi.

c. Kekuatan Reinforcement
Menurut Skinner “reinforcement” dapat terjadi dalam dua cara:
-Reinforcement positif memotivasi banyak tingkah laku sehari-hari. Seperti anda belajar keras karena mendapat nilai yang bagus, atau bekerja ekstra keras karena ingin memenangkan promosi. Dalam kedua contoh ini, respon terjadi karena respon-respon mengarahkan pada hasil-hasil yang positif di masa lalu.
-Reinsforcement negative terjadi ketika respon diperkuat (sering dilakukan), karena diikuti oleh stimulus yang dapat menyenangkan. Reinsforcement ini memainkan peranan dalam perkembangan kecenderungan-kecenderungan untuk menolak (menghindar). Pada umumnya orang cenderung menghindar dari situasi yang kaku, atau masalah pribadi yang sulit.
d. Ekstingsi dan Hukuman (Extinction & Punishment)
Terjadinya ekstingsi dimulai ketika respon-respon yang diperkuat mengakhiri dampak yang positif. Seperi anak yang suka melucu akan menghentikan melucunya, apabila dia tidak lagi mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari teman-temannya.
Beberapa respon mungkin dapat diperlemah dengan hukuman. Menurut Skinner hukuman ini terjadi ketika respon diperlemah (menurun frekuensinya dan bahkan menghilang), karena diikuti oleh kehadiran stimulus yang tidak menyenangkan.
3. Teori Belajar: Bandura
Albert Bandura adalah salah seorang behavioris yang menambahkan aspek kognitif terhadap behaviorisme sejak tahun 1960. Pengembangan teorinya merujuk kepada pandangan Skinner. Meskipun begitu Bandura memiliki pendapat (asumsi) tersendiri dalam kaitannya dengan hakikat manusia dan kepribadian. Asumsinya itu adalah sebagai berikut.

a. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sadar, berpikir, merasa dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Dengan demikian manusia bukan seperti poin atau bidak yang mudah sekali dipengaruhi atau dimanipulasi oleh lingkungan. Hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat saling mempengaruhi satu sama lainnya.
b. Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi antara satu sama lainnya. Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut.
4. Komentar
Teori behavioristik (pendekatan tingkah laku) dibangun atas dasar penelitian empiric, bukan hasil intuisi klinis. Karena bersifat empiric, pendekatan tingkah laku terbuka terhadap penemuan—penemuan atau gagasan-gagasan baru.
Para behavioris menyakini bahwa tingkah laku manusia itu tidak selalu konsisten, karena manusia berperilaku dengan cara-cara yang mengarah kepada reinforcement dalam situasi yang dihadapi. Dalam kata lain, faktor-faktor situasional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan tingkah laku.
Berikut merupakan kritik terhadap teori behavioristik:
a. Prinsip-prinsip dalam teori tingkah laku ditemukan melalui penelitian terhadap binatang. Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut (tingkah laku binatang) tidak bias digeneralisasikan kepada tingkah laku manusia.
b. Para behavioris mengabaikan proses kognitif, padahal factor ini sangat penting dalam tingkah perilaku manusia.
c. Para behavioris memandang kepribadian secara pragmentaris (terpecah-pecah, tidak utuh). Kepribadian dirumuskan secara sederhana, hanya sebagai hasil asosiasi stimulus-respon.
Credit @ trigonalworld.com

Menurut Thomas Kuhn, paradigma dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual atau model yang dengannya seorang ilmuwan bekerja (a conceptual framework or model within which a scientist works). Ia adalah seperangkat asumsi-asumsi dasar yang menggariskan semesta partikular dari penemuan ilmiah, menspesifikasi beragam konsep-konsep yang dapat dianggap absah maupun metode-metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan data. Tegasnya, setiap keputusan tentang apa yang menyusun data atau observasi ilmiah dibuat dalam bangun suatu paradigma.

 

Paradigma Kognitive

Psikologi kognitif fokus pada bagaimana seseorang menstrukturkan pengalamannya, bagaimana mereka menjadi menyadarinya, dan mentransformasikan rangsangan kedalam informasi yang berguna. Psikologi kognitif adalah VAK dari psikologi yang  mengeksplorasi proses mental internal. Psikologi kognitif mempelajari tentang bagaimana orang memandang, mengingat, berpikir, berbicara, dan memecahkan masalah.

Seseorang menyematkan setiap informasi baru kedalam jaringan terorganisir dari akumulasi pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya yang biasa disebut sebagai schema. Perbedaan mendasar pandangan kognitif dari pemikiran analisis mediasional adalah terletak pada aspek interpretasi aktif. Jika kelompok mediasi melihat stimulus secara otomatis menghasilkan respon mediasional internal, maka kelompok kognitif memandang minor peran dari reinforcement. Mereka justru percaya bahwa seseorang secara aktif menginterpretasikan stimulus dari lingkungannya dan termasuk bagaimana ia mentransformasikannya untuk mempengaruhi perilaku.

Para terapis kognitif berupaya merubah proses berfikir pasien-pasiennya untuk membantu mereka mengubah emosi dan perilakunya. Beberapa pola terapi telah diperkenalkan tokoh-tokohnya dalam hal ini, seperti: cognitive restructuring dari Davison, rational-emotive dari Albert Ellis, dan selectively abstract dari Aaron Beck.

 

Paradigma Behavioristik

Behavioral or learning paradigms muncul ketika John B. Watson memproklamirkan psikologi sebagai disiplin keilmuan yang harus didekati secara obyektif eksperimental. Maka dimulailah berbagai eksperimentasi untuk menyelidiki ‘aspek pembelajaran’ dari perilaku di atas teori S-R (stimulus – respon). Terdapat beberapa model eksperimentasi ‘aspek pembelajaran’ dari perilaku, antara lain: classical conditioniong dari Ivan Pavlov (1849-1936), operant conditioning dari Edward Thorndike (1874-1949) dengan the law of effect-nya yang nanti dikembangkan lebih jauh oleh Burrhus Frederick Skinner dengan reinforcement-nya, dan modeling yang dieksperimentasikan oleh Bandura dan Menlove yang kemudian menguatkan teori mediasi dalam pembelajaran (mediational learning paradigms).

 

Credit @ personalityzaenudin.wordpress.com

Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu.

Kepribadian sehat menurut Behavioristik
·         Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
·         Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
·         Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
·         Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
·         Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
·         Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
·         Manusia adalah makhluk perespon; lingkungan mengontrol perilaku.
·         Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
·         Mementingkan faktor lingkungan
·         Menekankan pada faktor bagian
·         Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
·         Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu
Credit @ akhmadsudrajat.wordpress.com

Psikologi kognitif merupakan perspektif secara teori yang memfokuskan pada dunia persepsi pemikiran ingatan manusia. Ia menggambarkan pelajar sebagai proses maklumat yang aktif menyerupai metafora dunia komputer. Pada pandangan psikologi kognitif, cara pelajar
menambahkan maklumat menentukan pencapaian tahap kefahaman mereka.

Psikologi kognitif merupa salah satu perspektif teori, ia menentukan bahawa tujuan psikologi saintifik adalah untuk memerhatikan tingkah laku-tindak balas individu yang boleh menjelaskan tindakan yang kita lihat. Dalam psikologi kognitif, pemerhatian digunakan untuk menghasilkan kesimpulan tentang faktor-faktor pemikiran, bahasa, maksud dan imejan.

gangguan kognitif adalah adanya masalah dalam proses mentalyang dengannya seseorang individu menyadari dan mempertahankan hubungan lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya (fungsi mengenal). bagian-bagian dari proses kognitive bukan merupakan kekuatan yang terpisah-pisah, tetapi sebenarnya ia merupakan cara dari seorang individu untuk berfungsi dalam hubungannya dengan lingkungan.

proses kognotif meliputi : sesnsasi dan persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan, pikiran, kesadaran.

respon kognitif mencakup ketidak mampuan untuki membuat keputusan, kerusakan memori dan penilaian, disorientasi, salah persepsi, penurunan rentang perhatian, dan kesulitan berfikir logis. respon tersebut dapat terjadi secara efisodik atau terjadi terus menerus. suatu dapat reversibel atau ditandai debngan penurunan fungsi secara progresif bergantung pada stressor.

respon kognitif pada umumnya merupakan akibat dari gangguan biologis pada fungsi sistem saraf pusat. faktor yang mempengaruhi individu mengalami gangguan kognitif termasuk:

1. gangguan suplai oksigen, glukosa, dan zat gizi dasar yang penting lainnya ke otak.

  • peubahan vaskular arteriosklerotik
  • serangan iskemik sementara
  • hemoragi selebral
  • infark otak mecil multipel

2. degenerasi yang berhubunngan dengan penuan

3. pengumpulan zat beracun dalam jaringan otak

4. penyakit alzheimer

5. penyakit hati kronik

6. penyakit ginjal kronik

7. defisiensi vitamin (terutama tiamin)

8. malnutrisi

respon individu termasuk kekuatan dan keterampilan. pemberi perawatan dapat bersifat mendukung dan juga dapat memberi memberi informasi tentang karakteristik kepribadian, kebiasaan, dan rutinitas individu. self-help group dapat menjadi koping yang efektif bagi pemberi perawatan.

untuk mengatasi ganggua kognitif sekarang telah muncul suatu kolaborasi terapi prilaku antara terapi prilaku dengan terapi kognitif yang masih berada dalam kelompok terapi prilaku tetapi dengan sikap yang berbeda, yaitu terapi kognitif, intervensi kognitif-prilaku, dan nonprescriptive behavior therapies. termasuk dalam terapi kognitif  adalah rational emotive therapy (ret), dan terapi dari back untuk depresi. yang termasuk dalam intervensi kognitif prilaku adalah untuk dewasa dan anak-anak.

nonpresciptive behavioral therapies adalah berbagai jenis psikoterapi yang menyangkut prilaku orang yang banyak dianggap bahwa masalah prilaku dan kepribadian atau masalah-masalah psikologis cukup dipelajari berdasarkan akal sehat atau common-sense saja atau mereka menganggap bahwa psikologi bukanlah ilmu pengetahuan yang harus dilihat dan dipelajari secara ilmiah, ada juga yang mempersepsikan psikologi sebagai bukab pengetahuan ilmiah. usaha penyelesaian sunjektif yang dipaksakan kepada orang lain, karena landasan yang menjadi nasihat adalah pengalaman atau pemikiran pribadi.

psikologi adalah ilmu prilaku yang menjadi masalah setiap orang. ilmu yang terlibat, misalnya pedadogi dan andradogi, komunikasi, sosiologi dan antropologi, agama dan lain-lain.

cognitive-behavioral therapy (CBT), perspektif kognitif dalam masalah-masalah klinis menekankann peranan nerpikit dalamm etiologi da pemeliharaan masalah-masalah. terapi keprilakuan kognitif berupaya memodifikasi atau megubah pola berpikir yang diyakini nerkontribusi terhadap permasalahan seseoang.

mahoney, (1977a) mengemukankan hasil observasinya, bahwa selain memperkihatkan perbedaan yang besar, juga terdapat landasan yang sama antara teori yang dijadikan landasan para ahli keprilakuan dan kognitif. pendekatan kognitif diperlukan justru untuk menjebatani perbedaab radikal antara pendekatan psikodinamik dan behaviorisme yang radikal.

peran teori belajar sosial menurut teori Rotter adalah sebagai penguat dan harapan-harapan. ada sedikit dua efek teori bekajar sosial terhadap perkenbangan teori prilaku yaitu, pertama, menghasilakan banyak ahli teknik prilaku yang dapat memudahkan modifikasi sejalam dengan garis-garis kognitif; dan yanng kedua, kedua teori kognitif dan modifikasi dapat meramu menjadi satu prosedur psikodinamik lama dengan pendekatan kognitif behavioral.

terdapat beberapa teknik yang termasuk CBT yang perlu dikemukakan, yakni modeling, rational restructuring, stress inculation training, beck’s cognitive therapy, dan dialectical behavior therapy.

terapi kognitif dari beck, yang dikemukakan oleh aaron beck untuk berbagai permasalahan klinis, 1991. dalam terapi ini digunakan teknik keprilakuan maupun kognitif untuk mengubah pola pikir yang menjadi karakter masalah atau gangguan dengan pertanyaan (beck, 1993). terdapat delapam teknik terapi kognitif, yakni beraktivitas yang melawan ketidakdktifan dan cenderung merasa depresi, meningkatkan aktivitas yang menyenangkan, menilai kembali secara kognitif, pelatihan asertif dan permainan peran, dengan sendirinya mengidentifikasi pikiran sebelum atau ketika terjadi perasaan sedih, menguji perasaan sedih, mengajarkan seseorang untuk tidak mengutuk diri, dan mencari jalam keluar.

terapi prilaku dialektis karya linehan, 1993, yang relatif baru dalam cognitive behavioral treatment terhadap gangguan prilaku borderline. kondisi-kondisi yang melibatkan disregulasi emosional dan impulcivitas. DBT melibatkan pelatihan keterampilan data, teknik-teknik pemecahan, regulasi emosional, dan keterampilan interpersonal, dan lingkungan terapeutikal yang melinatkan teapis maupun penderita.

 

TEORI KOGNITIVE

ada dua teori yang mendominasi tentang perkembangan kognitif , yaitu sebagai berikut:

A. Teori kognitif piaget

Teori ini adalah salahsatu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterprestasikan objek da kejadian-kejadian disekitarnya. bagaimana anak mempelajti ciri-ciri dan fungsi dari objek. bagaimana cara anak belajar mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa, dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.

piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realiatas. piaget juga percaya bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap yang terus bertambah kompleks.

menurut teori tahapan piaget, detiap individu akan melewati serangkaian perunahan kualitatif  yang bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau mundur.

B. Teori Pemrosesan Informasi

merupakan teori alternatif terhadap teori piaget. perbedaannya para pakr psikologi pemrosesan informasi tidak menggambarkan perkembangan dalam tahp-tahap atau serangkaian subtahap tertentu. malah lebih ditekankan pentingnya proses-proses kognitif seperti persepsi, seleksi perhatian, memori dan strategi kognitif.

teori didasarkan atas tiga asumsi, pertama, pikiran dipandabg sebagai suatu sistem penyimpanan dan pengambilan informasi. kedua, individu-individu memproses informasi dari lingkungan. dan ketiga, terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang  individu (zigler dan stevenson, 1993)

 

Source

  • Desmita.2008.psikologi perkembangan.Bandung.PT.Remaja Rosdakarya Offset
  • Stuart, Gail W.2002.Buku Saku Keperawatan Jiwa E/5.Jakarta.EGC
  • Yosep, Iyus.2007.Keperawatan Jiwa. Bandung. PT. Refika Aditama
  • Wiramih Aardja, Sutarojo.2007.pengantar psikologi klinis E/revisi.Bandung.PT.Refika Aditama

Pengembangan Kepribadian telah menjadi topik utama yang menarik bagi beberapa pemikir yang paling menonjol dalam psikologiPerkembangan kepribadian adalah apa yang membuat kita unik, tetapi bagaimana tepatnya hari ini kita menjadi siapa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, teoretisi terkemuka banyak dikembangkan teori tahap untuk menggambarkan berbagai langkah dan tahapan yang terjadi di jalan pengembangan kepribadian. Teori-Teori Pengembangan Kepribadian ini berfokus pada berbagai aspek pengembangan kepribadian, termasuk kognitif, perkembangan sosial dan moral.

  • Piaget Tahapan Pengembangan Kognitif
    Teori Jean Piaget tentang  perkembangan kognitif tetap salah satu yang paling sering dikutip dalam psikologi, meskipun menjadi subjek kritik yang cukup. Sementara banyak aspek teori tidak teruji oleh waktu, namun ide intinya tetap penting hari ini: anak-anak berpikir berbeda daripada orang dewasa. Pelajari lebih lanjut tentang teori Piaget terobosan dan kontribusi penting dibuat untuk pemahaman kita tentang pengembangan kepribadian.
  • Freud Tahapan Pembangunan Psikoseksual 
    Selain menjadi salah satu terbaik tahu pemikir di bidang pengembangan kepribadian, Sigmund Freud tetap salah satu yang paling kontroversial. Pada tahap teori terkenal tentang perkembangan psikoseksual, Freud menyarankan bahwa kepribadian berkembang secara bertahap yang berkaitan dengan zona erotis tertentu. Kegagalan untuk berhasil menyelesaikan tahap ini, ia menyarankan, akan menyebabkan masalah kepribadian di masa dewasa.
  • Freud Struktural Model Kepribadian 
    Konsep Freud tentang id, ego dan superego telah menjadi terkenal dalam budaya populer, meski kurangnya dukungan dan skeptisisme besar dari banyak peneliti. Menurut Freud, tiga unsur dari kepribadian-yang dikenal sebagai id, ego, dan superego-bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.
  • Erikson Tahapan Pembangunan Psikososial 
    Teori Erik Erikson tentang delapan tahap perkembangan manusia adalah salah satu teori terbaik yang dikenal dalam psikologi. Sementara teori didasarkan pada tahapan Freud tentang perkembangan psikoseksual, Erikson memilih untuk fokus pada pentingnya hubungan sosial pada pengembangan kepribadian. Teori ini juga melampaui masa kanak-kanak untuk melihat perkembangan di seluruh umur.
  • Kohlberg Tahapan Pembangunan Moral 
    Lawrence Kohlberg mengembangkan teori pengembangan kepribadian yang berfokus pada pertumbuhan pemikiran moral. Bangunan pada proses dua-tahap yang diusulkan oleh Piaget, Kohlberg memperluas teori untuk meliputi enam tahapan yang berbeda. Sementara teori tersebut telah dikritik karena beberapa alasan yang berbeda, termasuk kemungkinan bahwa ia tidak mengakomodasi jenis kelamin yang berbeda dan budaya yang sama, teori Kohlberg tetap penting dalam pemahaman kita tentang pengembangan kepribadian.

 

Credit @ belajarpsikologi.com

Hampir setiap hari kita menggambarkan dan menilai kepribadian orang-orang di sekitar kita. Disadari atau tidak, ini renungan harian tentang bagaimana dan mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan mirip dengan apa yang dilakukan psikolog kepribadian.

Sedangkan penilaian informal kami kepribadian cenderung lebih berfokus pada individu, bukan psikolog kepribadian menggunakan konsepsi kepribadian yang dapat berlaku untuk semua orang. Kepribadian penelitian telah mengarah pada pengembangan sejumlah teori yang membantu menjelaskan bagaimana dan mengapa ciri-ciri kepribadian tertentu berkembang.

Komponen Kepribadian

Walaupun ada berbagai Teori Kepribadian, langkah pertama adalah untuk memahami apa yang dimaksud dengan istilah kepribadian. Sebuah definisi singkat akan kepribadian yang terdiri dari pola-pola karakteristik dari pikiran, perasaan, dan perilaku yang membuat orang unik . Selain itu, kepribadian timbul dari dalam individu dan tetap cukup konsisten sepanjang hidup.

Beberapa karakteristik dasar kepribadian meliputi:

  1. Konsistensi – Ada umumnya perintah untuk dikenali dan keteraturan perilaku. Pada dasarnya, orang bertindak dengan cara yang sama atau cara serupa dalam berbagai situasi.
  2. Psikologis dan fisiologis – Kepribadian adalah membangun psikologis, tetapi penelitian menunjukkan bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh proses-proses biologi dan kebutuhan.
  3. Dampak perilaku dan tindakan – Kepribadian tidak hanya mempengaruhi bagaimana kita bergerak dan merespon di lingkungan kita, tetapi juga menyebabkan kita untuk bertindak dengan cara tertentu.
  4. Ekspresi Multiple – Kepribadian ditampilkan di lebih dari sekedar perilaku. Hal ini juga dapat dilihat dalam pikiran keluar, perasaan, hubungan dekat, dan interaksi sosial lainnya.

 

Credit @ belajarpsikologi.com

Ria Herliani.

NPM : 220110110038

Dosen pembimbing personality development

Ibu Yuyu

Ibu Yuyu

Logo Unpad

Logo Unpad

Logo Fkep

Logo Fkep

hi please enter you email here

Join 1 other follower

Tweet!

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.